March 12, 2008

Mengapa harga obat mahal?

Posted in Why is it like that? at 1:26 am by qballkubal

Milis angkatan gw lagi seru ngomongin seputar kesehatan. Soalnya temen- temen cewe gw yang udah menikah sedang banyak yang mengandung. That’s why, mereka jadi aware banget soal kesehatan bayi, reproduksi, kualitas dokter kandungan mereka, dan obat- obatan. Banyak yang mengeluhkan soal mahalnya harga obat non-generik saat ini meskipun mereka gak punya pilihan lain karena emang versi generik obat yang mereka butuhkan belom ada. Yang lain mengeluhkan dokter kandungan mereka yang terkesan terlalu banyak ngasi obat (ada yang lebih dari tiga bo!) sehingga mereka lebih mirip sales obat daripada dokter.

Achi, sang Pharmacist (inget, gak sama dengan Apoteker biasa!), juga lagi pusing dengan adanya praktek insentif dari perusahaan obat kepada dokter yang mempromosikan obat mereka dalam seminar dan praktek. Gak tanggung- tanggung, insentifnya bisa mobil ato liburan ke luar negeri! Sound like a bribery to you? It’s just one bottle of wine away from bribery. Jadinya kadang- kadang pasien sering dijejali obat yang gak mereka butuhkan.

One time, bayinya temen gw demam ketika baru nyampe Jakarta (from New Jersey). Dokter di Jakarta merekomendasikan suntikan antibiotik (buset dah! bayi belom setaun udah dikasi antibiotik!). Sedangkan konfirmasi dari dokter-nya di New Jersey sangaaaat simpel: sang bayi terlalu exicted karena berada di lingkungan baru, cukup kasih suplemen and sang bayi bakal sembuh dalam dua hari. Does this indicate incompentence of our Doctor? Perhaps.

Back to the drug price issue, kenapa perusahaan obat sangat agresif dalam mempromosikan obat mereka?

Harga obat memang mahal karena perusahaan farmasi (terutama yang besar seperti GlaxoSmithKline, Merck, Pfizer (oh, the viagra!), and Eli Lilly (famous for Prozac) mengeluarkan uang yang mungkin dua kali lebih banyak dari APBN negara kita buat mengembangkan satu jenis obat. Penelitian, pengembangan, tes efektivitas dan efek samping, uji klinik, produksi, dan marketing bisa memakan waktu rata- rata 12,3 tahun dengan budget sebanyak US $802 juta.

Ini beberapa info yang berhubungan dengan riset obat:
1. Hanya 4 dari 100 molekul kandidat (screening compounds) yang bisa digunakan sebagai informasi untuk investigasi obat baru (Investigational New Drugs/IND)
2. Hanya 5 dari 200 uji IND yang menunjukkan efektivitas dalam uji terhadap hewan
3. Rasio kegagalan uji klinis obat baru terhadap manusia adalah 6 kegagalan dari 10 uji (3:5)
4. Hanya setengah dari obat yang diajukan ke FDA mendapatkan pengesahan

So, kalo kita liat berdasarkan info di atas probabilitas penemuan obat baru yang sukses adalah 0,04 x 0,025 x 0,4 x 0,5 = 0,0002 ato 0,02%

Makanya, dalam waktu 20 tahun masa berlaku paten obat tersebut (sebelum versi generiknya diperbolehkan keluar) perusahaan farmasi harus puter otak untuk menentukan harga yang bisa bikin mereka balik modal plus ama profitnya. Kenapa? soalnya setelah 20 taun masa paten-nya abis, obat generik yang keluar bisa membuat pendapatan mereka turun 80 persen.

Beh…….emang bisnis obat itu mahal dah dan beresiko tinggi pula.

Advertisements

1 Comment »

  1. MD Pratomo said,

    Banyak argumentasi tentang harga obat yang mahal. Tapi yang pasti komponen biaya pemasaran dan labanya yang berkontribusi besar mengatrol harga..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: